Gerakan #2019GantiPresiden Hanya Ramai di Medsos

shares

Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan gerakan #2019GantiPresiden hanya ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, pada kenyataannya tidak mempengaruhi pilihan pemilih di Pemilu 2019.

Hal itu terjadi, menurut dia, karena belum ada sosok kuat yang akan menggantikan posisi Jokowi sebagai presiden.

Malahan, kata dia, kelompok mengusung gerakan itu bingung karena Prabowo Subianto, sebagai calon kuat yang akan diusung sebagai calon presiden belum menentukan sikap.



Sementara itu, calon-calon lainnya tingkat elektabilitas jauh di bawah mantan Danjen Kopassus tersebut.

"Bingung siapa figur kelompok ganti presiden. Jangan sampai figur yang sudah jelas (Joko Widodo,-red) dihadapkan dengan figur imajinasi, figur fiksi," tutur Ray, saat berbicara dalam diskusi yang digelar di Jakarta Pusat, Sabtu (21/4/2018).

Sejauh ini, dia menilai, Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan calon kuat yang akan bersaing di Pilpres 2019. Menurut dia, sulit memunculkan calon-calon lain di luar tokoh yang pernah bersaing di Pilpres 2014 tersebut.

"Kalau tidak identik dengan Prabowo siapa kira-kira. Sulit memunculkan di luar dua tokoh itu. Rasa-rasanya pertarungan 2019 Jokowi-Prabowo. Prabowo maju atau tidak masih menjadi pertanyaan," kata dia.

Belakangan, apabila melihat hasil dari lembaga survei, dia menilai ada kecenderungan tingkat elektabilitas dari Jokowi mengalami peningkatan. Sedangkan, Prabowo stagnan bahkan cenderung menurun.

"Setelah hastag ganti presiden, elektabilitas Jokowi naik. Prabowo stagnan bahkan cenderung turun," kata dia.

Sehingga, dia menyimpulkan, hastag #2019GantiPresiden hanya ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, pada kenyataan di dunia nyata gerakan itu tidak berpengaruh.

"Hastag ramai di medsos, tetapi di darat tidak ada. Hastag sudah mencapai 70 juta account, tetapi (tingkat elektabilitas,-red) Jokowi naik. Gerakan hastag jangan besar di udara, tetapi juga di darat," tambahnya. tr

Related Posts