Begini Warga Dimanfaatkan di Acara Sembako Monas Berujung Maut

shares

Ratusan orang dikumpulkan di Ruko Permata Ancol, Jalan RE Martadinata, Pademangan Barat, Jakarta Utara, sebelum diberangkatkan ke Tugu Monas.

Mereka akan diboyong untuk mengikuti acara bagi-bagi sembako yang diadakan oleh Forum Untukmu Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Acara tersebut berujung dua bocah tewas di Monas, yang semuanya warga Pademangan.

Kepala Bidang Kesejahteraan Masyarakat Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Pademangan Robi melihat ada yang aneh dari mobilisasi itu. Dia tak tahu siapa yang melakukannya karena tak diajak berkoordinasi. Dalam keramaian itu tak ada polisi atau aparat pemerintah yang datang laiknya terjadi pada konsentrasi massa.


Robi sering mengumpulkan Jakmania, fans klub bola Persija, untuk menonton pertandingan bola. Biasanya polisi selalu datang mengawasi dan menanyakan rencana rombongan tersebut.

"Tapi polisi dan Satpol PP nggak ada satupun, Binmas juga diam saja," kata Robi di Gedung Bareskim Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat, pada Rabu, 2 Mei 2018. "Jadi, kayaknya ada pembiaran."

Robi menemani Komariyah, ibunda Muhammad Rizki Syaputra, 10 tahun, mengadu ke Bareskim Mabes Polri. Rizki dan Mahesa Djunaedi (12) meninggal akibat terinjak-injak dan dehidrasi gara-gara antrean sembako. Rizki dan Mahesa tinggal berdekatan dalam satu RW.

Mobilisasi gelap warga juga dirasakan oleh Sri Aisyah, teman guru mengaji Mahesa. Wanita warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu menyaksikan langsung warga di tempat tinggalnya dikumpulkan supaya hadir ke Monas.

"Bus untuk pergi ditanggung panitia, tapi pulangnya enggak (diantar)," ucap Sri ketika mendampingi Komariyah di Gedung Bareskrim.

Sri juga ikut ke Monas namun bukan untuk mengantre sembako gratis melainkan mengajak beberapa tetangganya agar segera pulang. Dia mengaku miris melihat kacaunya penyelenggaraan acara. "Nasi yang dibagikan saja cuma nasi dan dua nugget," ucapnya. te

Related Posts