Dolar Perkasa di Rp14.000, Ekonom Bank: Musiman saja

shares

Nilai tukar rupiah terhadap sejak awal kuartal I 2018 ini terus mengalami pergerakan hingga di atas Rp 14.000. Per hari ini nilai dolar tercatat Rp 14.192 per dolar AS (dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate).

Banyak yang menyebutkan, jika nilai rupiah terhadap dolar AS sedang menuju titik ekuilibrium atau keseimbangan baru. Tapi benarkan rupiah sedang menuju level tersebut?


Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan untuk menuju titik keseimbangan baru harus dilihat dari berbagai aspek. Mulai dari faktor fundamental ekonomi, bagaimana pengelolaan terhadap sentimen eksternal maupun internal.

"Kalau dilihat dari fundamental ekonomi, Indonesia sebenarnya baik terlihat dari peringkat investment grade dari tiga lembaga, cadangan devisa membaik. Nilai rupiah masih bisa membaik setelah tekanan dari eksternal dan internal mereda," ujar Josua saat dihubungi detikFinance, Rabu (23/5/2018).

Menurut Josua pelemahan Rupiah terhadap dolar AS terjadi bukan karena kondisi ekonomi yang memburuk. Tapi karena adanya ekspektasi pasar yang melihat The Federal Reserve akan menaikkan bunganya dua kali lagi tahun ini, current account deficit (CAD) yang membesar, permintaan dolar yang tinggi untuk pembayaran dividen.

"Jadi ini semua faktor musiman saja. Setelah itu lewat nilai tukar bisa normal lagi. Jadi rasanya tidak akan menuju ekuilibrium baru," ujar Josua.

Dia menjelaskan, nilai dolar AS jika semua tekanan sudah mereda bisa kembali ke posisi Rp 13.700 - Rp 13.800. Tidak terlalu jauh dari asumsi anggaran pendapatan belanja negara (APBN) yang berada di kisaran Rp 13.500.

"Akhir tahun akan kembali mendekati angka asumsi APBN. Itu angka yang cukup fair untuk rupiah akhir tahun," ujarnya. (dna/dna)
Loading...

Related Posts