Mahesa meninggal saat pembagian sembako karena pembuluh darah pecah dan dehidrasi

shares

Mahesa Junaidi (13) bocah yang meninggal saat pembagian sembako di Monas, ternyata disebabkan pembuluh darah pecah dan dehidrasi tinggi. Ayah Mahesa, Djunadi mengatakan, sebelum meninggal putranya mengeluarkan darah dan tubuhnya kejang kejang. Mahesa meninggal pada Sabtu 28 April pukul 19.40 WIB di rumah sakit Tarakan, Jakarta Pusat.

"Sudah tidak sadarkan diri, kejang kejang terus, sekitar pukul 19.40 WIB anak saya sudah tidak ada (meninggal). Dokter kasih tahu saya, anak saya sudah tidak ada jam sekian, untuk darah itu pembuluh darah pecah, dehidrasi terlalu tinggi," kata Djunaidi, Ayah Mahesa, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5).


Djunadi menolak tawaran polisi untuk melakukan autopsi. Dia sudah ikhlas lahir dan batin.

"Dari situ saya ditanya sama polisi? apa anak bapak mau dilanjutkan autopsi atau tidak? Saya bilang enggak, saya buat pernyataan menolak untuk autopsi juga," ucapnya.

Dia menceritakan, sebelum berangkat ke Monas, anaknya dalam keadaan sehat. Mahesa juga tidak mempunyai riwayat sakit.

"Kalau anak saya sakit mungkin ga berangkat ke sana ya. Tapi kalau riwayat memang ada umur empat tahun dia pernah sakit diare, panas terus kejang, satu Minggu di rumah sakit Husada, di Mangga Besar," bebernya. [noe]

Related Posts