Entri yang Diunggulkan

Jadi Barang Bukti, Akun Instagram Ahmad Dhani Disita Polisi

Mantan Kepala BIN: 'Tangkap para tokoh masyarakat yang bicara dan berbuat membela teroris'

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (KaBIN) Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono angkat bicara soal peristiwa meledaknya bom di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Dia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan jangan panik dalam situasi seperti ini.

Dia mengibaratkan fenomena terorisme semacam ini seperti gunung Krakatu yang berpotensi meletus lagi. Meski demikian, dia percaya polisi dan TNI akan mampu mengatasinya.


“Kekuatan mereka yang seperti puncak Gunung Krakatau ini berpotensi meletus lagi, tapi Polri dan TNI akan mampu meredamnya,” kata Hendropriyono.

Program deradikalisasi dinilainya sudah jalan. Kini masyarakat perlu bersatu melawan terorisme, seperti warga Jawa Barat yang melawan DI/TII pada masa silam.

“Pada era 1960-an berhasil dengan gemilang menumpas DI/TII, karena bersatu padu mengepung mereka dengan melakukan pagar betis di daerah Majalaya,” ujar dia.

Hendropriyono mengungkapkan idenya agar di setiap Rukun Tetangga (RT) memiliki semacam tahanan untuk orang-orang yang dicurigai sebagai teroris. Nantinya, orang-orang yang mencurigakan itu bisa diserahkan ke aparat.

“Tahan setiap orang yang mencurigakan, untuk langsung serahkan kepada polisi atau kesatuan TNI yang terdekat. Sangat bermanfaat jika setiap RT punya kontainer tempat tahanan sementara sebelum alat negara datang,” kata dia.

Dia juga berpesan agar pihak-pihak yang membela teroris ditangkap saja. Menurutnya, masyarakat tak perlu terlalu pusing dengan urusan Hak Asasi Manusia (HAM) bila hendak menangkapi orang-orang mencurigakan. HAM yang harus dijunjung tinggi adalah HAM setiap orang Indonesia untuk hidup aman dan sejahtera.

“Tangkap para tokoh masyarakat yang bicara dan berbuat membela teroris. Ingat bahwa hukum yang tertinggi dalam situasi seperti ini adalah keselamatan rakyat. Singkirkan semua bualan tentang HAM teroris dalam kondisi rakyat di bawah bayang-bayang terorisme ini,” tuturnya.

Bom di 3 Gereja
Diketahui, peristiwa kelam terjadi di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi. 3 gereja di kota itu diguncang bom bunuh diri.

Peristiwa berdarah itu terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro 146 dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna.

Polisi menyatakan korban tewas ada 9 orang. Sementara 40 orang mengalami luka.

“Untuk saat ini ada 9 orang meninggal dunia. Untuk luka-luka ada 40 orang,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Bom yang meledak di GKI Diponegoro diduga terjadi akibat bom bunuh diri yang dilakukan seorang perempuan di area parkir dekat gereja.

Sebagaimana dilaporkan CNNIndonesia TV, Minggu (13/5/2018), ledakan ini menewaskan seorang perempuan yang diduga pelaku bom bunuh diri, dan dua orang anak.

Sampai berita ini dimuat, belum ada penjelasan apakah kedua anak tersebut memiliki hubungan dengan terduga pelaku atau tidak.

“Ledakan terjadi sekitar pukul 07.00 saat jemaat melakukam misa, bom meledak di area parkir motor. Diduga perempuan itu pelaku, belum tahu apa membawa anak, atau korban orang lain,” demikian dilaporkan Korespoden CNNIndonesia TV Muhammad Walid dari keterangan pihak kepolisian, Minggu (13/5).

Dikabarkan, masih ada bom lain yang belum meledak di lokasi kejadian. Saat ini tengah ditangani unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak). j